Memahami Aturan DOWA 1,2 dan 3: Solusi Legalitas Penyerahan Obat Keras di Apotek
Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Konsultasi Gratis
Konsultasi Gratis Farmacare
Halo, Farmapreneur!
Salah satu langkah yang memungkinkan Apoteker untuk berperan aktif dalam swamedikasi masyarakat adalah melalui Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA). Secara sederhana, DOWA merupakan daftar obat keras tertentu yang secara legal dapat diserahkan oleh Apoteker kepada pasien tanpa resep dokter. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kemandirian masyarakat dalam mengatasi keluhan ringan secara aman dan rasional.
Landasan Hukum dan Tujuan DOWA
Pemerintah telah mengatur penyerahan obat ini melalui beberapa Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) yang diterbitkan secara bertahap. Berikut tiga landasan hukum utama yang perlu diketahui oleh praktisi di apotek maupun masyarakat:
- DOWA No. 1 (Kepmenkes No. 347/1990): Menjadi pijakan awal untuk mendukung program pemerintah dan pengobatan penyakit dasar.
- DOWA No. 2 (Kepmenkes No. 924/1993): Perluasan daftar obat untuk menangani penyakit dengan angka kejadian (prevalensi) tinggi di masyarakat.
- DOWA No. 3 (Kepmenkes No. 1176/1999): Penambahan cakupan untuk sistem organ yang lebih spesifik, seperti pencernaan dan muskuloskeletal.
Mengenal Perbedaan DOWA No. 1, 2, dan 3
Meski tujuannya sama, setiap kategori DOWA memiliki karakteristik dan batasan teknis yang berbeda yang wajib dipahami oleh praktisi di apotek sebagai berikut :
- Fokus Penyakit dan Jenis Obat:
- DOWA 1 cenderung berfokus pada layanan kontrasepsi (Pil KB) dan gangguan pernapasan umum seperti asma (Salbutamol).
- DOWA 2 lebih diarahkan untuk mengatasi infeksi jamur kulit (Ketoconazole) dan nyeri ringan hingga sedang (Ibuprofen).
- DOWA 3, cakupannya meluas hingga ke area penyakit metabolik seperti asam urat (Allopurinol) serta masalah lambung (Ranitidine).
- Ketentuan Teknis Penyerahan: Terdapat batasan tertentu yang harus diperhatikan demi menjaga profil keamanan pasien:
- DOWA 1: Menekankan pada riwayat pasien, terutama untuk kontrasepsi yang memerlukan pemantauan melalui kartu pasien.
- DOWA 2: Mayoritas daftar obatnya merupakan sediaan luar (topikal) seperti krim atau salep.
- DOWA 3: Sangat memperhatikan dosis dan jumlah sediaan. Sebagai contoh, Allopurinol hanya boleh diserahkan maksimal 10 tablet untuk dosis 100mg.
Berikut adalah rincian obat beserta ketentuannya:
DOWA 1
| No | Nama Obat | Ketentuan |
|---|---|---|
| 1 | Kontrasepsi Oral
Lynestrenol (Exluton) Ethinylestradiol–Norgestrel (Microdiol) Ethinylestradiol–Levonorgestrel (Cycloginon, Pilkab, Sydnaginon) Ethinylestradiol–Desogestrel (Marvelon 28, Mercilon 28) |
Penggunaan pertama wajib resep dokter. Maksimal 1 siklus. Kontrol dokter tiap 6 bulan. |
| 2 | Obat Saluran Cerna
Metoklopramid – antimual Bisakodil Suppo – laksan |
Metoklopramid maks. 20 tablet. Bisakodil maks. 3 suppo. Mual muntah berkepanjangan → kontrol dokter. |
| 3 | Mulut & Tenggorokan
Hexetidin Triamcinolone acetonide |
Hexetidin maks. 1 botol (OBT). Triamcinolone maks. 1 tube. |
| 4 | Saluran Napas
Asetilsistein, Karbosistein, Bromheksin Salbutamol, Terbutalin, Ketotifen |
Mukolitik maks. 20 tablet / 1 botol sirup (OBT). Obat asma hanya pengulangan resep dokter. |
| 5 | Sistem Neuromuskular
Metampiron Asam Mefenamat Metampiron + Diazepam Mebhidrolin Dexchlorpheniramine maleat |
Maksimal 20 tablet (sesuai indikasi alergi/nyeri). |
| 6 | Antiparasit
Mebendazol |
Maks. 6 tablet / 1 botol sirup. Diubah menjadi Obat Bebas Terbatas. |
| 7 | Obat Kulit Topikal
Nistatin, Desoksimetason, Betametason, Triamsinolon, Hidrokortison, Kloramfenikol, Gentamisin, Eritromisin |
Maksimal 1 tube / 1 botol sesuai sediaan. |
DOWA 2
| No | Nama Obat | Ketentuan |
|---|---|---|
| 1 | Albendazol | 6 Tab 200 mg 3 Tab 400 mg |
| 2 | Bacitracin | Indikasi: infeksi pada kulit 1 Tube |
| 3 | Bismuth subsilate | 10 Tablet |
| 4 | Clindamisin | Indikasi: acne 1 Tube |
| 5 | Dexametason | Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi 1 Tube |
| 6 | Diclofenak | Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi 1 Tube |
| 7 | Fenoterol | 1 Tabung |
| 8 | Flumetason | Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi 1 Tube |
| 9 | Hidrokortison | Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi 1 Tube |
| 10 | Ibuprofen | Tab 400 mg, 10 tablet Tab 800 mg, 10 tablet Diubah menjadi Obat Bebas Terbatas |
| 11 | Ketokonazol | Indikasi: obat luar infeksi jamur lokal 1 Tube |
| 12 | Metilprednisolon | Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi 1 Tube |
| 13 | Omeprazol | 7 Tablet |
| 14 | Piroksikam | Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi 1 Tube |
| 15 | Prednison | Indikasi: obat luar untuk antiinflamasi 1 Tube |
| 16 | Scopolamin | 10 Tablet |
| 17 | Sucralfat | 20 tablet |
| 18 | Sulfasaladin | 20 tablet |
DOWA 3
| No | Kategori / Nama Obat | Ketentuan |
|---|---|---|
| 1 | Saluran Pencernaan
Famotidin Ranitidin |
Indikasi: antiulkus peptik. Famotidin maks. 10 tablet (20/40 mg). Ranitidin maks. 10 tablet (150 mg). Pengulangan dari resep dokter. |
| 2 | Sistem Muskuloskeletal
Alopurinol Diklofenak natrium Piroksikam |
Alopurinol: antigout, maks. 10 tablet (100 mg). Diklofenak natrium: antiinflamasi & antirematik, maks. 10 tablet (25 mg). Piroksikam: antiinflamasi & antirematik, maks. 10 tablet (10 mg). Pengulangan dari resep dokter. |
| 3 | Antihistamin
Cetirizin Siproheptadin |
Indikasi: antihistamin. Maksimal 10 tablet. Pengulangan dari resep dokter. |
| 4 | Antiasma
Orsiprenalin |
Indikasi: asma. Maksimal 1 tabung. Pengulangan dari resep dokter. |
| 5 | Organ Sensorik
Gentamisin (obat mata) Kloramfenikol (obat mata) Kloramfenikol (obat telinga) |
Gentamisin: maks. 1 tube 5 g atau botol 5 ml. Kloramfenikol mata: maks. 1 tube 5 g atau botol 5 ml. Kloramfenikol telinga: maks. 1 botol 5 ml. Pengulangan dari resep dokter. |
| 6 | Antiinfeksi Umum (Terapi TB)
Kategori I (2HRZE / 4H3R3) Kategori II (2HRZES / HRZE / 5H3R3E3) Kategori III (2HRZ / 4H3R3) |
Diberikan satu paket terapi. Sebelum fase lanjutan pasien wajib kembali ke dokter. |
Pentingnya Konsultasi dan Keamanan Pasien
Hadirnya DOWA merupakan jembatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pengobatan yang tepat tanpa prosedur yang panjang. Namun, sebagai garda terdepan kesehatan, Apoteker wajib memberikan edukasi yang jelas mengenai cara penggunaan, dosis, hingga efek samping yang mungkin muncul.
Ingatkan pelanggan bahwa di balik kemudahan akses tersebut, keamanan tetap menjadi prioritas utama. Dengan pemahaman yang baik mengenai aturan DOWA, kita dapat mewujudkan swamedikasi yang aman dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.










